DALAM tiga bulan terakhir, langkah PT Madhani Talatah Nusantara (MTN) melego saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) tampak terstruktur.
Bukan sekadar mencari likuiditas kilat, melainkan menjaga fleksibilitas strategis sembari menata ulang portofolio.
Dari penjualan 666 juta saham pada 19 Juni 2025, lalu 606 juta pada 4 Agustus 2025, hingga 2,64 miliar saham pada 8 Agustus 2025—semuanya menandai pola divestasi sistematis yang tak serta-merta terpaku pada tekanan pasar .
MTN percaya diri menyeimbangkan kebutuhan dana jangka pendek tanpa kehilangan peran penting dalam konsolidasi pertambangan—sebuah permainan cerdas ala konglomerat besar.
Profil Pemegang Saham dan Pemain Utama
MTN, sebagai pemegang saham mayoritas hasil private placement terhadap utang DEWA senilai Rp756,99 miliar, memimpin konsensus utang-ke-ekuitas dengan porsi awal hingga 24,8 % .
Pasca-ledakan private placement, kepemilikan terkini MTN berada di 13,09 % setelah aksi 8 Agustus 2025, dari sebelumnya 19,58 %.
Pemegang saham besar lainnya antara lain:
1. PT Andhesti Tungkas (11,76 %)
2. PT Antareja Mahada (9,72 %)
3. Goldwave Capital Limited (9,38 %)
4. Zurich Asset International (6,18 %)
5. Publik (~41,9 %) .
Pengendali akhir berada di tangan Nirwan Dermawan Bakrie melalui struktur grup dan private placement .
Kinerja Keuangan DEWA: Laba Meroket, Beban Terkendali
Semester I 2025 memperlihatkan lonjakan laba bersih DEWA hingga Rp168 miliar, dari hanya sekitar Rp14 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga:
Pendapatan sebesar Rp3,10 triliun naik 6,4 % YoY – terutama disokong oleh Grup Bakrie (95,7 % dari total) .
Kontribusi terbesar dari Kaltim Prima Coal (Rp2,04 triliun) turun dari 72,6 % ke 65,9 % .
Arutmin Indonesia naik impresif ke porsi 29,9 % dari 22,8 % .
Beban pokok turun menjadi Rp2,63 triliun, terutama karena penurunan biaya subkontraktor drastis hingga 33 % YoY .
Industri dan Persaingan: Dimana DEWA Berada?
Darma Henwa beroperasi sebagai penyedia jasa penambangan khusus—dengan rekam jejak proyek pertambangan batubara skala besar.
Meski informasi pangsa pasar keseluruhan dan perbandingan dengan pesaing seperti Petrosea atau Trakindo terbatas publik.
Baca Juga:
ETO Markets Memperkuat Aspek Kepatuhan Regulasi Setelah Meraih Izin Usaha dari FSC Mauritius
Namun pendapatan masif dari KPC dan Arutmin menunjukkan posisi kuat dalam ekosistem pertambangan nasional .
Ekspansi portofolio pelanggan (dengan peningkatan kontribusi Arutmin) menandakan DEWA bergerak dari ketergantungan terhadap satu klien jangka panjang menuju diversifikasi risiko yang lebih sehat.
Rumor Strategis: Apa yang Belum Terpublikasi?
Alasan jual saham di harga berbeda: Penjualan bertahap berkali ini dikerjakan di harga Rp75 per saham (penjualan Juni dan awal Agustus).
Lalu Rp208 per saham (8 Agustus)—sekitar 7,14 % di bawah harga pasar penutupan saat itu.
Skema ini mengindikasikan adanya negosiasi privat, kemungkinan untuk mencairkan aset tanpa mengganggu pasar publik secara langsung.
Rencana reinvestasi: MTN kemungkinan membidik aset pertambangan lain, atau malah menyusun modal untuk ekspansi alat berat, mengingat DEWA baru saja menandatangani kredit sindikasi Rp350 miliar .
Penguatan neraca DEWA: Penurunan beban subkontraktor dan laba kuat menandakan efisiensi internal yang bisa menjadi modal untuk memperbaiki rating keuangan, membuka peluang kredit lebih besar atau bahkan merger akuisisi dalam waktu dekat.
Kesimpulan dan Insight Investor
MTN tampak sedang menata ulang struktur kepemilikan DEWA secara strategis—bukan hanya mencari dana segar.
Di balik divestasi besar-besaran adaptif ini, terselip sinyal pergeseran alokasi modal, efisiensi biaya operasional, dan diversifikasi pelanggan.
DEWA kini berdiri dengan neraca lebih sehat, laba melonjak, dan peluang kredit terbuka lebar—tentu menarik perhatian investor jangka pendek dan jangka panjang.****













